Pemuda kali punya bermimpi
Dalam sekam itu terpatri
Dari moyang
Untuk pertiwi
Aku,
Bianglala sejati
Yang hatinya mati karena negeri
Saat ku tertidur, tak lagi ku bermimpi
Aku,
Hembusan dingin angin tenggara
Terlalu beku untuk dirasa
Karena pemuda melawan mesra
Dengan gagah mereka berkata :
“ hai negeri,
Aku kembali
Membawa kembali sayat pisau belati
Untuk mu, kunikmati mimpi.
Aku tak mati negeri !
Masih hangat dalam dekap bir yang ku nikmati,
Bersama mimpi yang ku buat sendiri.”
Aku,
Pualam mati.
Terlalu benci pemuda tak berseni,
Yang masih bergelut bersama mimpi
Mencuri diri dari hari.
Hai !
Kau !
Pemuda ironi,
Masih ingatkah kau mimpi ibumu yang telah mati ?
Untuk kau dan negeri ini !
Bukan untuk malam yang kau temani bersama wanita puisi,
Bukan untuk mimpi yang kau beli dan kau nikmati sendiri,
Dan bukan jua cadar bom telepati.
Aku,
Puteri kecil burung kenari.
Yang enggan menampakkan diri
Lari bersama mimpi ibumu yang telah mati
Aku malu pemuda !
Saat canting tinta lilin api tak lagi kau pegangi
Saat dawai usang tak lagi merdu berbunyi
Dan syair pagi pengembala sapi pergi,
Sepi,
Tak berseni.
Kemana mereka ?
Kau tahu kemana mereka pergi pemuda ironi ?
Jawab ?
Lari bersama mentari
Mencari mimpi yang kau buat sendiri
Kemudian menari dengan rima luar negeri
Mati,
Tak berseni.
Aku pergi,
Dari pagi mencari diri
Untuk aku yang melawan mati.
Oh. .aku malu
Pada pertiwi yang selalu memberi,
Pada canting tinta lilin api
Dawai kecapi perkusi,
Dan syair mimpi pengembala sapi
Karena aku. . .
Aku. . .
Kau tahu aku ?
Benar . . .
Itu aku, pemuda ironi.
Dalam sekam itu terpatri
Dari moyang
Untuk pertiwi
Aku,
Bianglala sejati
Yang hatinya mati karena negeri
Saat ku tertidur, tak lagi ku bermimpi
Aku,
Hembusan dingin angin tenggara
Terlalu beku untuk dirasa
Karena pemuda melawan mesra
Dengan gagah mereka berkata :
“ hai negeri,
Aku kembali
Membawa kembali sayat pisau belati
Untuk mu, kunikmati mimpi.
Aku tak mati negeri !
Masih hangat dalam dekap bir yang ku nikmati,
Bersama mimpi yang ku buat sendiri.”
Aku,
Pualam mati.
Terlalu benci pemuda tak berseni,
Yang masih bergelut bersama mimpi
Mencuri diri dari hari.
Hai !
Kau !
Pemuda ironi,
Masih ingatkah kau mimpi ibumu yang telah mati ?
Untuk kau dan negeri ini !
Bukan untuk malam yang kau temani bersama wanita puisi,
Bukan untuk mimpi yang kau beli dan kau nikmati sendiri,
Dan bukan jua cadar bom telepati.
Aku,
Puteri kecil burung kenari.
Yang enggan menampakkan diri
Lari bersama mimpi ibumu yang telah mati
Aku malu pemuda !
Saat canting tinta lilin api tak lagi kau pegangi
Saat dawai usang tak lagi merdu berbunyi
Dan syair pagi pengembala sapi pergi,
Sepi,
Tak berseni.
Kemana mereka ?
Kau tahu kemana mereka pergi pemuda ironi ?
Jawab ?
Lari bersama mentari
Mencari mimpi yang kau buat sendiri
Kemudian menari dengan rima luar negeri
Mati,
Tak berseni.
Aku pergi,
Dari pagi mencari diri
Untuk aku yang melawan mati.
Oh. .aku malu
Pada pertiwi yang selalu memberi,
Pada canting tinta lilin api
Dawai kecapi perkusi,
Dan syair mimpi pengembala sapi
Karena aku. . .
Aku. . .
Kau tahu aku ?
Benar . . .
Itu aku, pemuda ironi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar